Kurnia Marga Handayani : Hidup Penuh Perjuangan

Perjuangan,

Hidup penuh perjuangan, seluruh makhluk hidup perlu melakukan perjuangan dalam menjalani kehidupannya. Dari awal manusia itu lahir, berbalik merangkak itu dinamakan perjuangan jua. Lantas sampai kapan perjuangan itu berakhir? Yaitu saat kita sudah mati.

Dalam tulisan ini saya ingin membahas mengenai motivasi dan perjuanganku kuliah di UMB.

Dahulu , aku menganggap sekolah itu enteng, Tinggal pergi pagi, duduk di kelas dan pulang ke rumah. Selalu seperti itu tanpa peduli apa tujuan untuk bersekolah itu sendiri. Padahal di situ terdapat sesuatu yang harus diperjuangkan. Memang, ilmu itu tak hanya ada di sekolah. Semua orang bisa mendapatkan ilmu tanpa harus pergi sekolah. Sehingga aku tidak pernah benar-benar serius dalam proses belajar mengajar .

Jadi apa yang sebenarnya istimewa dari sekolah itu? Apakah karena ijazahnya yang bisa dibawa ke mana-mana guna mencari pekerjaan? Tapi ada pula orang yang tidak lulus sekolah namun bisa sukses di masa depannya. Seperti Bu Susi Pudjiastuti yang tidak dapat menyelesaikan studinya namun bisa menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Serta banyak lagi tokoh dunia terkenal lainnya yang sukses tanpa surat keterangan kelulusan sekolah alias ijazah.

Kemudian, bagaimana seharusnya kita menyikapi hal itu? Apakah kita bisa dengan mudah berkata, “Tidak perlu sekolah, banyak toh yang sukses tanpa bersekolah.” Tentu tidak, kan? Memangnya, kita yakin benar benar bisa sukses seperti mereka di masa depan nanti? Yakin keberuntungan yang seperti itu datang kepadamu, tanpa ada perjuangan?

Tidak, percayalah. Mereka bisa sukses seperti itu pasti sebab telah melakukan perjuangan yang amat berat tanpa kita ketahui. Tidak ada yang tahu, dan bahkan mungkin tidak ada yang memandang mereka saat mereka tengah dilanda kebingungan dan berusaha berjuang keras. Kini, saat nama mereka sudah melambung tinggi, dikenallah mereka sebagai orang kaya yang sukses tanpa bersekolah.

Saya sering mendapati gambar yang latar belakangnya adalah wajah Bill Gates berisi kata-kata bijak yang bunyinya kira-kira seperti ini: ”Saya gagal dalam beberapa ujian, sementara teman saya lulus di semua pelajaran itu. Sekarang dia menjadi insinyur di Microsoft sementara saya menjadi pemilik Microsoft.”

Selain itu ada juga kata-kata bijak dari Bob Sadino yang bunyinya: “Orang goblok sulit dapat kerja, akhirnya usaha sendiri. Ketika sukses, orang goblok mempekerjakan orang pintar.”

Mirisnya, kata-kata itu dijadikan panutan secara abal-abalan oleh anak-anak zaman sekarang yang malas. Malas bergerak, malas berusaha. Kerjanya pegang handphone melulu, begitu disinggung masalah pendidikan malah selow, tidak peduli.

”Bodo amat, belajar bukan penentu kesuksesan.”

Wow, kata-katanya terdengar seolah dia sudah hidup selama ratusan tahun dan sudah melakukan penelitian yang amat akurat tentang kehidupan yang akan terjadi di masa depannya. Pergi sekolah seminggu tiga kali, sampainya malah ketiduran, atau asyik bergosip. Ada apa-apa bergantungnya ke anak juara kelas. Di sekolah hanya masuk dua puluh besar, katanya tidak peduli dengan nilai ataupun peringkat. Saat mau lulus malah nangis karena banyak nilai yang tidak sempurna.

Saya mungkin tidak pintar-pintar sekali di sekolah Yah, hanya sekedar berjuang untuk rajin hadir di sekolah dan bikin tugas. Tapi namanya tetap perjuangan, kan?

Tahun itu saya berniat untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Sejak kelas dua saya sudah sibuk mutar-mutar perpustakaan dan google untuk mencari contoh soal ujian nasional, juga soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Setelah dapat, saya ajak teman teman saya untuk belajar bersama sama. Tapi herannya, mereka menolak. Malah saya dikatai, ”Sok rajin!”

“Ow!” Saya pikir, sepertinya teman-teman saya juga penganut kata-kata bijak tersebut. Ya sudahlah, dari pada ribut. Jika mereka tidak mau berjuang, baik, saya yang akan berjuang sendiri. Semakin lama hari semakin dekat. Saya prihatin juga dengan teman-teman yang impiannya ingin kuliah di universitas ternama. Padahal SNMPTN dan SBMPTN saja belum mengerti maksudnya.

Saat guru membimbing pendaftaran melalui jalur SNMPTN, mereka pada panik tanya sana sini. Apa itu SNMPTN, sama dengan bidikmisi, tidak? Sebenarnya sudah dari jauh hari saya coba memperkenalkan istilah-istilah tersebut. Dan sekarang saya lagi lagi harus berkali-kali menjelaskan,

”Teman, SNMPTN itu seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Bukan bidikmisi. Tapi salah satu syarat untuk mendapatkan bidikmisi adalah harus lolos seleksi ini. Di seleksi ini, nilai rapor kita dari semester satu sampai semester lima akan dikirim dan di seleksi. Jika ada yang tidak mencukupi KKM, maka tidak lolos.”

Nyatanya, banyak yang menangis karena nilainya tidak cukup. Kata saya, “Tidak apa-apa, masih ada SBMPTN. Tapi harus giat belajar. Soalnya ratusan. Lima belas soal matematika, lima belas soal biologi, lima belas soal kimia.”

“Ah! Aku tidak mau kuliah!” ujarnya. “Kuliah bukan penentu kesuksesan masa depan.”

“Terus, apa rencana kamu untuk meraih kesuksesan di masa depan nanti?” Tanya saya. Karena yah, bisa saja dia punya rencana yang lebih efektif lagi dibandingkan berkuliah. Namun jawabannya mengecewakan, dia hanya menjawab dengan pernyataan yang samar samar. ”Entahlah.”

Bukan sampai di situ. Lebih mengejutkannya lagi, ada yang berbuat curang. Memanipulasi seluruh nilai menjadi di atas sembilan puluh. Hingga di kemudian hari dia dinyatakan lolos SNMPTN. Tidak adil! Yang berjuang ternyata kalah dengan yang ber-uang. Seakan perjuangan itu tak berharga sama sekali. Namun beruang tapi berkepribadian malas tetap tak akan bertahan, kan? Di universitas malas-malas, mau lulus setelah berapa tahun?

Dan tenang, masih belum pupus sebuah harapan. Yang tidak lolos SNMPTN, akan menjadi pejuang SBMPTN. Dan di situlah terlihat yang mana para pejuang sejati selama ini. Pejuang masuk perguruan tinggi.

Mungkin bakal banyak yang bertanya, kenapa sih serius sekali ingin lulus masuk kuliah? Buang-buang umur saja. Setelah lulus kerjanya biasa saja, tidak hebat. Itu sih menurut pendapat masing-masing. Kuliah tak selalu hanya buang-buang umur.

Selama berkuliah mahasiswa itu belajar. Mempelajari ilmu dan mengasah kemampuan, termasuk kemampuan bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diberikan. Dan itu semua termasuk perjuangan. Setiap perjuangan tidak mungkin sia-sia, bukan?

Meski setelah lulus kerjanya biasa saja, tidak sehebat tokoh tokoh terkenal yang kaya raya. Yang penting rezeki yang didapat halal, kan?

Orang orang juga tidak bisa mengatai orang-orang yang putus sekolah. Karena siapa tahu pintu pikiran mereka suatu saat terbuka, lalu timbul hasrat mencoba berusaha, berjuang untuk memperbaiki masa depannya yang awalnya suram. Hingga akhirnya menjadi orang yang sukses.

Akhirnya aku jatuhkan pilihanku pada salah satu universitas di Bengkulu yaitu UMB untuk membanggakan kedua orang tua saya.dan saya harus bisa bangkit dari kegagalan yang pernah saya alami di masa lalu saya dulu.

Karena hidup adalah berjuang. Mereka yang telah mengangkat nama di dunia ini, pada asalnya adalah orang orang yang berani berjuang.

Leave a Reply