KETIKA “DIA” TELAH KEMBALI

News 0
a-283x400 KETIKA "DIA" TELAH KEMBALI

Photo : Dari Berbagai Sumber, Edit (Red) 17/10/17

OPINI, beritadelapan.com- Seorang informan (tukang pemberi informasi) berdiri menantang laut tanpa tepi. Wajahnya kusut dengan kulit kering terkena sinar matahari. Dari kejauhan samar-samar terlihat bayang tubuhnya lelah menopang beban tugas dan tanggung jawab, dengan kedua tangan terangkat tinggi mengepal rasa kepenatan dan berteriak “kenapa…?”.

Dia terlahir dari ratusan juta jiwa yang haus akan keterbukaan informasi, jutaan ribu tubuh dekil mengharap kesejahteraan. “Dia” sering kukenal dengan sebutan “manusia kosong”. Pertemuan ini singkat tidak lebih dari waktu terbenamnya matahari di pantai Pasar Bawah.

Agak lama, sosok itu tetap berdiri, kemudian seiring desiran angin soreh, bersama bias sinar mentari di atas buih pantai. Wajahnya berpaling kemudian berkata “ketika masih ada asumsi, tidak akan baik dunia ini dengan kita sendiri. Maka jangan berharap kita akan benar-benar sejahtera”. Aku terdiam, benakku berpikir “mengapa?”.

Tugasmu mulia duhai sahabatku…

Kau penyebab aku lahir, teruskan perjuangan ini, aku mohon izin untuk kembali. Usiaku telah tua, sekian puluh┬átahun telah berlalu…, hening, hanya tarikan nafasnya terdengar menyesakkan. Kau kini telah berusia delapan belas tahun, amanah ini kuserahkan padamu.

Ingatlah nasehat ini…

Seorang Jurnalist Harus menjunjung tinggi…

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Selesai berkata sepenggal paragraf itu… sekejap, berlalu…

“Dia” pamit pergi untuk kembali…

Menyatu dalam raga dan jiwa sang jurnalist.

Kemudian sayup-sayup terdengar “Insan Pers “dia” telah kembali”. (red)

Spread the love
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts