Cara Bahagia Edisi I

How-Make-BeritaDelapan-Bagimana-Agar-Bahagia Cara Bahagia Edisi I
Gambar : Hanya ilustrasi luasnya arti kata Bahagia. (HMBD2020)

—How Make, BeritaDelapan.Com—

Pembaca How Make, berbagi merupakan tindakan nyata untuk mengisi sudut demi sudut ruang dan waktu kehidupan. Tentunya kebaikan yang diberikan dan diterima hendaknya mampu dijalankan secara ikhlas oleh pemberi dan penerima kebaikan.

Jika, seandainya, misalkan saja, diumpamakan,  A + B + C + D + E + F + G + H + I + J = 10, A sampai dengan J adalah SEBAB, 10 adalah AKIBAT, tentu mudah dismpulkan bahwa A sampai dengan J adalah SEBAB yang menghasilkan AKIBAT 10. Akan tetapi, saat mengurai huruf A sampai dengan J, dikonfersikan ke dalam angka, tentu bisa saja menghasilkan banyak kemungkinan. Bisa jadi 1 + 1 + 2 + 4 + (4) + 1 + 3 + 8 + 9 + (15) = 10, tidak mutlak harus 1  + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 10.

Tahun 1980, terlahirlah Aamiin, tanpa seorang Ayah, memasuki usia 6 tahun, ibunda Aamiin meninggal dunia. Aamiin dibesarkan dan dididik oleh paman beserta kakeknya, hidup dalam lingkungan keras, kejam dan bengis. Menjadi kebiasaan di lingkunganya, tidak hanya barang yang diperjual belikan, melainkan manusia turut diperdagangkan. Aamiin tidak mengeyam bangku sekolah, secara logika apakah mungkin Aamiin akan mendapatkan kebahagiaan?

“Pernahkah mendengar nama Muhammad SAW, benar, Muhammad SAW telah membuktikan SEBAB AKIBAT tidak mampu dan tidak akan pernah mampu berdiri sendiri, melainkan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT Maha Kuasa Atas Segala Sesuatunya”, (HMBD : 2020)

Sudut/Titik/Tolak Ukur/Cara/Tumpu/Pondasi dan sebagainya terkait kosa kata ‘me-lihat‘. Dimulai pada pokok bahasan kata tersebut. Pastikan pembaca mendudukkan diri pada cara berpikir, selayaknya penulis berpikir, yaitu dengan menempatkan kata ‘bahagia‘ pada tempat yang tepat dan semestinya, bukan pada frasangka, dugaan keinginan semata. Akan tetapi lebih mengedepankan pada pendapat dari yang memiliki ‘kebahagiaan’. Letakkan dulu cara melihat arti bahagia. Cari arti yang telah baku, tanpa perlu melakukan pembantahan atau mengeluarkan daya upaya kritis pemikiran sendiri-sendiri.

Setiap orang, dimungkinkan memiliki pemikiran yang berbeda terhadap pengertian BAHAGIA. Hal tersebut, bukanlah suatu kesalahan, disebabkan manusia memiliki fisik, jiwa dan ruh sendiri-sendiri. Akal memiliki peran penting, terjemahan dari kondisi Hati seseorang.

A, merasa Bahagia bila menjalani hidup dengan hura-hura, pesta pora, mau harta tinggal memetik buah, tidak peduli terhadap lingkungan keluarga dan tempat tinggalnya. Harta menjadi factor utama dalam kebahagiaan yang dirasakannya.

B, merasa Bahagia saat dirinya memiliki peran dalam kehidupan orang lain, dapat membantu sesama meskipun hanya dengan memberikan minum dan nasehat akan makna kehidupan. Bagi B, kebahagiaan merupakan buah dari pengabdian.

Siapapun bebas memberikan makna Bahagia dan merasakan Bahagia. Akan tetapi, kondisi nyata yang dirasakan seseorang, merupakan kebenaran yang sebenar-benarnya terhadap arti Bahagia. Tetap ada yang kurang, meskipun hal tersebut sering tidak diketahui, seolah, seperti ada sesuatu yang menuntut lebih, sesuatu yang harus dicari dan terus dicari, dijalani dan terus dijalani, hingga batas ruang dan waktu yang ada terbuka dan terlihat jelaslah sumber kebahagiaan.

“Bahagia adalah kondisi diri yang merasakan ketenangan, tanpa intervensi materi dan inmateri ciptaan, yang ada hanya penyerahan diri pada Maha Pemilik Kebahagiaan” (HMBD : 2020)

Langkah Pertama : Mencari cermin diri dan menggunakannya pada waktu dan tempat yang tepat dan benar. Cermin diri yang dimaksud adalah diri sendiri. “Kalau aku tidak…”, “Aku begini…”, “Tidak, ya memang seperti itu dia, kalau aku…”.

Kedua : Lepaskan seluruh pengharapan akan kebahagiaan yang merasa dihasilkan dari kekuatan diri sendiri.

Ketiga : Ikuti proses dengan seksama, temukan irama dan nada dalam setiap tarikan dan hembusan serta langkah kehidupan nyata. Baik dalam keadaan duduk, berjalan, bercengkerama, bersosialisasi, memenuhi kebutuhan fisik, tempat tinggal, pakaian, hasrat, dorongan, impian, angan-angan, kebencian, iri, dengki, prasangka, sedih, kecewa, marah, hingga rasa-rasa bahagia itu sendiri. Nikmati dan terus nikmati, lepaskan rasa mabuk, hingga sampai pada kesadaran bahwa kondisi diri tetap berada dalam ‘penglihatan-Nya’.

Keempat : Cari pembimbing yang benar dan lurus, namun jangan lupa, pembimbing luar tidak lebih kuat dari pembimbing di dalam diri sendiri. Setiap induksi yang datang dari luar diri, akan terus dikritisi oleh yang ada di dalam diri.

Kelima : Bersambung…*) HMBD-Red

Leave a Reply