Warna Kehidupan, Para Pencari Ridho Allah SWT

Editorial, Terbaru 0

IMG_20190116_161030 Warna Kehidupan, Para Pencari Ridho Allah SWT

Oleh : Doni Abdullah Wataf

Ini kisah yang sangat bernilai, menjadi sejarah bagi orang tertentu.

Tersebutlah seorang lelaki, tubuhnya kurus dengan lidah tak bertulang kalo bicara. Tak perlu disampaikan keburukan hidupnya, yang pasti hari ini ia sedikit agak memaksa diriku untuk menemaninya. Namun, agar sedikit menarik dijelaskan di sini ia menjadi aktor utama. Sekejap, tidak perlu lama, tidak perlu berbulan-bulan, terlihat jelas perubahan di wajahnya.

Seperti kebanyakan orang, sehari-hari ia disibukkan dengan urusan ‘kerja/harta’ Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terjebak dalam ‘indahnya sistem negara’. Berapa gajinya?, kalo tidak salah kisaran 100 ribu rupiah, tahu kan mengapa seorang ASN gajinya segede itu?.

ABC : Don… Mari temani saya ke Pino Raya?.

Don : Napa bro?, (sahutku seolah serius)

ABC : Kita beli bakso, untuk saudara kita di sana. Kan muslim bersaudara.

Don : Hem… (Sambil senyum manis aku sedikit menimpali).

Waktu tak terasa nenunjukkan Pukul 14:30 Wib, sudah lewat tengah hari. Kuperhatikan dirinya, masih menggunakan seragam kerja hiasan peci bundar di kepala kecilnya. Aku tahu, arahnya mau kemana, tak bosan-bosan dia terus menceritakan betapa hatinya sedang berbunga-bunga. Bukan karena jatuh cinta lagi pada seorang wanita yang lebih cantik dari istrinya. Namun lebih kepada “Manisnya Hidayah”.

Bergegas kami menuju warung bakso, dipesan beberapa mangkok, dibungkus dengan rapi, kemudian letakkan di atas motor, tarik gas, hujan gerimis sedikit lebih deras, melaju menuju Tempat Yang Di Tuju. Basah?, gak juga, tapi sedikit. Diperjalanan ia berkata “semoga rintik hujan ini, akan menjadi saksi di akherat nanti”. Meluncur menuju Masjid … Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan.

ABC : Assalamu’alaikum… (Sapanya kemudian dengan santun kepada puluhan orang yang sedang duduk di dalam masjid).

Kudengar sahut mereka, lembut, ramah dan tidak dibuat-buat. Sangat beda dengan keadaanku sehari-hari.

Kumandang Adzan Asharpun mengalun, seorang berpakaian seragam polisi, dengan senapan khusus melengkapi pinggangnya. Suaranya merdu, tidak seberingas biasanya.

Tanpa komando manusia, yang belum berwudu bergegas membersihkan diri. Usai adzan, serentak sholat dua rakaat sebelum ashar. Entah perasaan apa, aku turut serta mengikuti gerak-gerik mereka.

Usai sholat ashar, setelah dzikir dan doa. Ada yang duduk membentuk lingkaran, aku duduk didekat dinding masjid, kemudian senyum dan salam menyambutku dari lelaki lain, dengan jenggot hitam, senyum tulus, memakai tutup kepala sejenis sorban. Kami bertukar sapa, kudengar ia disebut dan dipanggil orang sebagai ‘Amir’. Pemimpin rombongan dari Lampung Selatan, jama’ah yang selama bertemu tidak mengucapkan kata-kata kotor, buruk, umpatan, yang keluar adalah nasehat, doa, sedikit candaan namun bernilai pengetahuan. Beda…

Sahabatku turut menghampiri kami, kulihat dia sangat menghormati lelaki tersebut. Kuketahui kemudian CINTa telah hadir dalam hatinya. Kuketahui selanjutnya Tiga Hari ia melewati persahabatan dengan mereka, telah menggantikan waktunya bertahun-tahun.*)

*) Catatan Redaksi 16 Januari 2019

author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply