RUMAH TUA LAPUK “SIMISKIN” DIBONGKAR WARGA TERNYATA

Headline, Inspirasi 0

3-1 RUMAH TUA LAPUK "SIMISKIN" DIBONGKAR WARGA TERNYATA

BENGKULU SELATAN, beritadelapan.com – Minggu (29/01/2017), Yarhan (68) mendongakkan kepala melirik atap rumah, saat melihat rumah miliknya yang telah berusia 60 tahun dibongkar warga dengan paksa. Peristiwa langka ini terjadi di Desa Nanti Agung Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan.

Kondisi rumah memang terkesan tidak nyaman untuk dihuni oleh orang seumuran Yarhan. Ketika diperhatikan tampak jelas struktur bangunan rumah mirip rumah era tahun enam puluhan. Dengan bentuk rumah panggung, terbuat dari kayu, kontras beda dengan rumah permanen yang ada di sampingnya. Sekarang rumah tersebut kayu-kayunya sudah lapuk dengan atap bocor apabila hujan.

Rumah Tua Lapuk “Simiskin” Dibongkar Warga Ternyata :

“warga telah sepakat untuk membongkarnya. Melihat rumah pak Yarhan ini sudah tidak layak huni lagi. Kayu-kayunya sudah lapuk, atap rumah sudah banyak yang bocor sehingga basah apabila hujan”. Tutur Yus warga yang juga ikut membongkar rumah tersebut.

Rumah Tua Lapuk “Simiskin” Dibongkar Warga Ternyata :

“Rencananya rumah pak Yarhan ini akan dibangun permanen dan untuk sementara pak Yarhan kami buatkan rumah tempat dia berteduh, selagi rumahnya masih dalam proses pembangunan” Ungkap Yus kemudian.

Rumah Tua Lapuk “Simiskin” Dibongkar Warga Ternyata :

“Di tengah masyarakat sekarang yang sudah cenderung individualistis, Alhamdulillah masih ada di desa kami ini rasa kepedulian sesama warga” Pengakuan Zulian.

Rumah Tua Lapuk “Simiskin” Dibongkar Warga Ternyata :

“berharap agar tradisi nenek moyang ‘Gotong Royong’ ini terus dilestarikan”. Tandas Zulian Selaku Anggota BPD Nanti Agung.

Hal ini dibenarkan oleh pemilik rumah dengan berucap, ”Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat Desa Nanti Agung yang telah membantu membongkar rumah saya ini, sekali lagi saya ucapkan terima kasih”. Ungkap Yarhan.

 

Diharapkan, kejadian ini menjadi contoh positif bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta masyarakat umumnya. Di tengah sikap “individualistis” ternyata masih ada budaya Gotong Royong yang patut dilestarikan. Kemudian dapat bersama dijadikan rujukan dalam mengambil kebijakan untuk mensejahterakan masyarakat sebagaimana tertuang dalam PANCASILA sila ke 5 “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” (Red). (Jt)

author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply