“Money Politik” Bencana Dalam Logika

Headline, Nasional 0

Idul-Fitri-1439-H-Rohidin-Mersyah "Money Politik" Bencana Dalam Logika

NASIONAL, beritadelapan.com – Pikiran tersembunyi tidak diketahui hingga tidak dirasakan salah, keputusan kecil menyebabkan bencana.

Semisalnya, 1000 orang menghuni Tanah Impian Padang Rumput Harapan. Besok pagi tanggal 27 Juni 2018, mereka diberikan kesempatan untuk menjatuhkan pilihan agar memilih seorang Kepala Suku dan Wakil Kepala Suku.

Tersebutlah 100 orang tidak begitu pusing, bahkan lupa hari pemilihan atau terpaksa melupakan karena keadaan yang tidak memungkinkan. 100 orang tidak diperbolehkan menggunakan hak pilih atas dasar pekerjaannya harus indevenden, para pengawal Tanah Impian.

“Kasih uang Seratus Ribu Rupiah, kita beli kepala mereka!”. Tegas ABC selaku kandidat. Tim bergerak, serangan demi serangan digencarkan, propaganda dimainkan, fitnah dihembuskan, kabar angin dijadikan mega gelombang.

“Bos, ada uangnya enggak?”, suara mungil terdengar, usianya kira-kira 20 tahunan, terlalu muda untuk mental yang telah terjajah.

Tak terasa pemilihanpun usai, didapatkan Kandidat Terpilih dari hasil Money Politik. Kegembiraan menyelimuti seluruh pendukung dan keluarga. Sementara itu, terpaksa seorang Pria harus membuka bajunya, berbicara meracau, mencaci, memaki, membuka aib keluarga, teman, sahabat dan saudara. Pria tersebut gila, hutangnya terlalu banyak, terlalu besar harga yang harus dibayar. Katanya dia kalah, karena uangnya habis tim yang sukses.

Pelayan Digaji Seumur Hidup pun menunggu, mulai berdatangan, mulai memuji dan mencari canel, penghubung ke orang nomor satu. Ada yang mampu bertahan, tapi ada juga yang harus gigit jari kaki.

Pesta yang katanya disebut “Pesta Rakyat” pun digelar. Pengusaha memberikan kado indah, emas, berlian, dan ATM, ada juga yang pandai, melihat kondisi, membelikan mobil bagi keluarga Pimpinan. Tak tahu berapa uang yang telah terkuras, hilang hanya beberapa jam saja. Pemimpin mulai menghitung-hitung, gaya mulai disesuaikan, pergaulan mulai dicocokkan, hingga adat makan dan mandi pun mulai diputar 180 derajad.

Jauh nun di pelosok Tanah Impian, anak yatim berusia 5 tahun menahan lapar, perutnya keroncongan, bibirnya terlihat barisan pecah-pecah, nafasnya bau, bajunya kumal, dan tubuhnya basah kuyup, gubuk tempatnya berteduh tak mampu menahan derasnya hujan.

Terus bergulir, mulai kelihatan, dulu keluarga yang membenci, dulu keluarga yang menghina, dulu keluarga yang tidak mengakui, dulu keluarga yang jauh dan terus menjauh. Berbondong-bondong datang tak henti-henti.

“Saya, cucu si fulan, dari suku DFG, kita masih ada ikatan darah. Ini ada sedikit oleh-oleh”, wajah baru itu terlihat akrab, bola mata hitam berganti ukiran mata uang, dengan senyum sumringah, manut dan manggut Pemimpin Money Politik tersebut, mulai mencicil hutang.

Kebohongan demi kebohongan mulai terjadi, tanpa terasa telah mengakar terlalu dalam, sangat dalam hingga lupa berapa ukuran dan tempatnya. Menjalar lebih dahsyat dari virus mematikan. Menggerogoti hati, menghidupkan belatung, terbentuk sudah masyarakat, egoitis, menang sendiri, malas, cuek dan acuh, pandai bersandiwara. Tidak terasa lagi, bahkan terdengar aneh, jargon hidup telah terpatri ” Tidak Bisa Hidup Tanpa Uang”.

Perampokan, pelacuran, pembunuhan, koropsi, aborsi semakin menjadi jadi. Kemudian orang-orang mulai saling menyalahkan, mengumpat dan mengkebiri kebebasan. Tanah Impian tersebut kini terlihat sangat menyedihkan.

“Setiap manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan. 27 Juni 2018, adalah hari bersejarah dalam sistem demokrasi di Indonesia. Maka bebaskanlah belenggu hati, TOLAK MONEY POLITIK”. (Red)

author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply