Kisah Hidup Nawiyah “Kursus Rantai Makanan” (SERI II)

banner 468x60

— BENGKULU SELATAN, beritadelapan.com

Tak terasa, waktu telah melewati titik tengah hari, beritadelapan masih duduk di atas bangku berukuran persegi panjang dengan potongan kayu tersusun lurus, berdiri angkuh di belakang meja kotak tanpa alas. Melirik ke sebelah kiri, dua orang berpakaian seragam tentara bersama dua orang berseragam pegawai negeri sipil, terlihat serius membahas permasalahan desa. Rupanya percakapan tersebut mengarah pada, kurangnya praktik pemahaman akan arti kebersamaan dalam pembangunan. Menunggu memang harus lebih sabar.

__Penting!. Biasakan Tuntas Baca, Agar Tidak Salah Informasi__ Baca Seri I Klik Disini Kisah Nawiyah Tumpukan Kaleng Kornet

Rumah-Tidak-Layak-Huni-Desa-Padang-Lebar-Kecamatan-Seginim-Bengkulu-Selatan-Provinsi-Bengkulu-Indonesia-xxxx-300x300 Kisah Hidup Nawiyah “Kursus Rantai Makanan” (SERI II)

Setelah lama dan hampir bosan, tampak dari jarak kurang lebih 5 meter, sosok Kepala Desa Padang Lahiriah tersenyum, tanpa mengurangi rasa hormat, beritadelapan membayar seketika dengan sapaan “Mari berangkat?”. Sebentar, jawabnya datar.

Tidak berselang lama, 3 orang keluar dari Kantor Kecamatan Seirama, meluncur ke Dinas Terkait Pekerjaan Social yang terletak di pusat Kabupaten Bertajuk Senduh. Staf Kecamatan Seirama, diiringi beritadelapan, diikuti motor Kepala Desa Padang Lahiriah, perlahan bergerak menuju Kabupaten Bertajuk Senduh. Di titik sentral kabupaten, telah menunggu praktisi sosial kemasyarakat, Mr. Sulemoon. Sesampainya di lokasi, kami berempat diterima oleh Sekretaris Dinas Terkait Pekerjaan Sosial dan 2 orang Kepala Bagian dengan ramah. Obrolan bukan warung kopipun berputar.

Mata rantai, kata demi kata dalam obrolan penting tersebut, perlahan menuju  Tokoh Utama dalam cerita ini, Nenek Nawiyah. Dinas Terkait Pekerjaan Sosial telah melaksanakan gerakan ‘Tanggap Bencana Sosial’, bantuan kemasyarakatan telah disalurkan, berupa sedikit kebutuhan makan dan minum sehari-hari Nenek Nawiyah. Kecamatan Seirama juga telah bergerak, penghimpunan informasi akan sosok Nenek Nawiyah telah dilakukan. Percakapan berlangsung seru, santai, dan indah, meskipun begitu, namanya sifat ilmu, satu kali dua kali, se-sekali tetap saja ada hiasan perdebatan antara satu dengan lainnya, khususnya saat percakapan berada pada titik nol argument regulasi.

“Proses pembenahan terkait data base keadaan sosial masyarakat, harus dilaksanakan dengan gerakan besar. Tidak mampu berdiri sendiri-sendiri, semua komponen dapat diberikan peranya masing-masing” igau salah satu peserta, yang sebelumnya sibuk memainkan hp, entah apa yang ditulisnya.

Pertemuan tersebut tidak sia-sia, setelah beberapa waktu lalu, dunia industry gaib digegerkan dengan kabar “Fakir Rentah Dibiarkan Terlantar”.  Selidik demi selidik, Nenek Nawiyah menjadi buah bibir dari eksekutor pembangunan secara berjenjang.

“Bahkan masih ada yang kondisinya lebih buruk dari Nenek Nawiyah, di Desa Padang Lahiriah itu sendiri, setidaknya ada 7 rumah yang sama dan atau lebih buruk dari kondisi Nenek Nawiyah”, seloroh salah satu Kabid Dinas Terkait Pekerjaan Sosial Kabupaten Bertajuk Senduh.

“Saya akan bahas, hasil pertemuan kita ini, ke tingkatan lebih lanjut”, timpal seorang perempuan, yang telah diketahui menduduki jabatan sebagai Sekretaris Dinas Terkait Pekerjaan Sosial.

Kurang lebih, dua kali enam puluh menit, kalimat demi kalimat mengalir deras dalam pertemuan yang beritadelapan sebut dengan “Kursus Rantai Makanan”. ___Bersambung___*)

*) Red-Cerita Fiktif, Mohon Maaf Apabila Terdapat Kesamaan Gambar, Nama Dan Tempat Kejadian.

banner 468x60
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply