Jamaah Tanpa Nama

Inspirasi, Terbaru 0

Oleh : Doni Abdullah Wataf

Jamaah-Tanpa-Nama Jamaah Tanpa Nama

Menulis mungkin untuk sekarang ini menjadi bagian dari aktifitas saya sehari-hari, kebetulan pekerjaan saya sebagai redaksi beritadelapan.com mengharuskan saya untuk melakukan hal tersebut.

Di luar liputan berita pada umumnya. Kali ini redaksi beritadelapan.com akan mencoba menguraikan kisah kehidupan, dimaksudkan untuk menjadi inspirasi bagi pembaca.

Saya sedikit kebingungan harus memulai dari mana, belum ditemukan kata yang tepat untuk mengawali gambaran kisah yang ingin ditulis dan disampaikan kepada pembaca.

Setidaknya, cerita ini berawal dari kalimat ‘mendung langit lewat tengah hari’. Ya… mendung terlihat menghitam di langit yang luas, dengan gerimis sedikit demi sedikit membasahi bumi. Saya bersama seorang kenalan (AD) menuju suatu perkampungan. Perjalanan yang harus kami lewati kira-kira menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai ke tujuan. Sepanjang perjalanan, bagi orang yang sangat terbatas pengetahuan, ada hal baru yang dapat saya saksikan dan rasakan.

Deru angin seolah membuat mulut terbungkam, medan tanjakan dan kelokan berhias pemandangan hijau persawahan nampak asing bagiku. Temanku memacu motor yang seolah tak bertenaga untuk melewati tanjakan, ia hanya diam, meskipun sekali atau dua kali terdengar suaranya. Tujuan kami bertemu dengan sekelompok orang, yang kemudian saya ketahui dikenal dengan sebutan Jamaah Tabligh dari Lampung Selatan.

Assalamu’alaikum… mereka mendahului mengucapkan salam saat melihat kedatanganku, senyum mereka terlihat, sapa mereka lembut, kulihat ada yang terbaring dan ada juga yang beranjak duduk ketika saya mendekati mereka. Ku jawab salam mereka dengan kalimat Waalaikumussalam… Waktu itu, AD masih berdiri di depan persimpangan jalan menuju lokasi. Tidak lama kemudian, AD yang tadinya masih berdiri di persimpangan muncul dan ikut ngobrol bersama dengan kami.

Singkat berbicara, didapati kisah perjuangan, sekelompok orang yang berjalan dari tempat tinggalnya masing-masing, meninggalkan anak dan istri, teman dan saudara, rumah dan harta mereka selama Empat (4) Bulan, menuju ‘medan perjuangan’.

Teman saya memutuskan untuk membantu rombongan tersebut mencari Masjid di desa yang lain. Pada desa yang dituju, kira-kira lima menit setelah sholat ashar. Saya, AD dan beberapa orang warga desa, duduk di teras rumah yang sebagian tempatnya juga diperuntukkan sebagai warung klontong. Diperoleh informasi bahwa kelompok tersebut ditolak warga karena dikabarkan telah menghipnotis salah satu warga yang ingin bergabung dengan mereka.

Sifat kerja “wartawan” mulai keluar, perbandingan informasi kulaksanakan. Setidaknya ada bebarapa orang yang telah kena hipnotis, hingga kini dalam berbulan-bulan mereka masih ‘terhipnotis’ : Kelompok ini berhasil ‘meng-hipnotis’ pecandu narkoba menuju ahli ibadah. Kelompok ini berhasil ‘meng-hipnotis’ pecandu judi online hingga berhenti total. Kelompok ini berhasil ‘meng-hipnotis’ kepala daerah berjas menjadi bersorban. Kelompok ini berhasil ‘meng-hipnotis’ anak bandel (mencuri dan menyusahkan serta bersikap kasar kepada orang tua) menjadi anak yang tunduk dan patuh rela berusaha melayani dan menghormati orang tua. Kelompok ini berhasil ‘meng-hipnotis’ puluhan, hingga jutaan orang di seluruh dunia, pakaian dan ajakan mereka hampir sama. (Dari beberapa sumber). Apakah ‘hipnotis’ ini yang mereka sebutkan?.

Kekuatan apa yang menggerakan hati dan jasad mereka, sehingga rela hati dan gembira, senyum, sapa, salam dan doa terus menerus mengiringi hampir setiap langkah mereka. Lisan mereka mendoakan kebaikan warga dan tempat-tempat yang mereka singgahi, baik yang menerima mereka maupun yang menolak mereka. Aktifitas yang unik di tengah kehidupan yang serba diukur dengan rupiah. Aneh dan gila di tengah pikiran negatif melanda kehidupan masyarakat, masih ada orang seperti mereka.

Untuk siang ini, matahari telah menyelesaikan tugasnya sebagai mahluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Malam mulai menyapa, kami kembali menuju kelompok tersebut. Diputuskan berdasarkan musyawarah seluruh anggota kelompok, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju tempat yang mau menerima mereka. Tidak terlalu jelas waktu menunjukkan pukul berapa, masyarakat sekitar cukup ramai meyaksikan keberangkatan mereka menuju tempat yang lain. Sebab mereka dijemput dengan mobil yang tergolong mewah untuk kalangan masyarakat sekitar. Saya gali informasi, ternyata ada orang yang baik hati, berasal dari tempat yang cukup jauh meminjamkan mobil untuk mengangkut barang bawaan mereka. Sebab warga sekitar tidak mau meminjamkan mobil mereka. AD telah berusaha mencari pinjaman kendaraan dari warga sekitar untuk mengangkut barang bawaan kelompok tersebut. Memang cukup lumayan, jumlah anggota kelompok tersebut sebanyak tiga belas orang. Barang bawaan diangkut menggunakan mobil, sementara ketika ditawari menggunakan mobil, rombongan memutuskan untuk berjalan kaki. Jarak antara kampung A ke B kisaran 3 KM, mereka tempuh dengan berjalan kaki. Mereka tiba lebih kurang pukul 23:30 Wib.

Sebelum ini mereka telah melewati puluhan, hingga ratusan kilometer berjalan kaki, mampir dari satu kampung ke kampung lainnya. Di setiap kampung yang menerima mereka, mereka hanya memutuskan untuk tinggal sementara di Masjid, sambil mengajak warga sekitar memakmurkan masjid. Kelompok ini tidak sedikit, jumlah mereka ada banyak dan tidak hanya berasal dari satu negara. Mereka keluar meninggalkan rumah mereka untuk memperbaiki diri, mengajak saudara mereka agar memakmurkan masjid. Waktu saya kecil, kelompok seperti ini sudah ada, hingga kini berusia lebih dari 30 tahun kelompok ini masih ada. Menurut mereka, kelompok ini dari zaman ke zaman akan terus ada. Sejarah telah membuktikan.

Kelompok ini, pembelajar yang belajar saling mengingatkan secara terus menerus, mengingatkan arti Iman kepada Allah SWT, mengingatkan tentang kewajiban sholat dan mempraktik sholat wajib berjamaah di setiap Masjid yang mereka singgahi, mengingatkan akan kewajiban suami terhadap istri yang ternyata tidaklah sesederhana seperti memberi uang jajan anak TK, mengingatkan kewajiban manusia sebagai anak yang harus taat kepada orang tua, mengingatkan arti kebersamaan dalam lingkungan tempat tinggal, mengingatkan akan artinya persaudaraan, mengingatkan akan artinya membangun dan melaksanakan kebaikan manusia yang hanya sebatas mahluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan banyak sekali pelajaran hidup di dunia hingga pelajaran hidup di akherat. Pada dasarnya mereka hanya pembelajar yang berusaha memperbaiki diri, dan praktik langsung di lapangan, menyampaikan ilmu yang didapatkan. Tujuan mereka “memberi kabar gembira dan peringatan”. Miris dan sedih, hingga pada suatu kampung, warga menolak halus kedatangan mereka yang tidak meminta upah pada setiap kampung yang mereka singgahi. Mereka mengeluarkan keringat dan harta hanya mengharap ridho dari Sang Maha Pencipta.

Timbul pertanyaan :

  1. Jika benar mereka kelompok ahli hipnotis, siapa yang mengajarkan ilmu hipnotis yang super canggih tersebut, sebab hipnotisnya bertahan lama dan bertahun-tahun, hingga ada yang tutup usia?
  2. Jika benar mereka adalah kelompok bayaran, maka siapa yang mampu membayar mereka. Dewasa ini, rata-rata di tengah kehidupan sosial masyarakat hampir semua dihitung dengan uang?.
  3. Jika benar mereka adalah kelompok gila, maka mengapa gila mereka nampak lebih sadar dari orang sadar itu sendiri?.
  4. Jika benar mereka adalah kelompok sesat, maka ajaran seperti apa yang benar?.
  5. Jika benar mereka menelantarkan anak dan istri mereka, maka mengapa tidak ada istri-istri yang melapor kepada pihak berwajib, bahkan ada juga person polisi yang ikut dengan mereka?.
  6. Jika benar mereka berprilaku hidup kotor, mengapa setiap kamar kecil Masjid tempat mereka bermalam, bersih dan terpelihara?.
  7. Jika mereka dari organisasi tertentu, parpol tertentu, perusahaan tertentu, maka mengapa terlalu banyak sebutan bagi mereka. Ada yang memberi gelar ‘Jamaah Kompor’, ‘Jamaah Tabrligh’, ‘Jamaah Jalan Kaki’ dan sebagainya. Sebutan mereka banyak, tergantung daerah tempat mereka menjalankan program mereka?.
  8. Dan banyak jika-jika yang lain, hal negatif menimpa mereka?.

Maka, saya pun, menulis kisah ini dengan judul ‘Jamaah Tanpa Nama’. Mereka hanya mengajak ummat muslim untuk menjalankan kewajiban sholat, mereka hanya mengingatkan karena menurut kelompok tersebut : “Kita… terikat dengan kalimat ‘LaIlahaIlallah, Muhammadarrasulullah’. Maka kita adalah saudara. Mari sejenak, kita kemasjid untuk sholat berjamaah”. Kemudian kelompok ini akan berbicara tentang Iman kepada Allah SWT. Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selanjutnya akan berdiskusi tentang tata cara menjalani kehidupan, ringkasnya tata cara menjalani kehidupan sebagai manusia dari waktu sebelum tidur, sedang tidur, hingga bangun tidur lagi.

Apa aktifitas sehari-hari mereka, sama seperti manusia pada umumnya, ada yang membuka rumah makan, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi petani, ada Polisi, ada juga bekerja sebagai TNI dan ada juga sebagai walikota. *)

 

*) Kisah diambil dari pengalaman pribadi pada tanggal 24 dan 25 Februari 2019 dan bahan literatur lainnya. Penulis yang juga sebagai Pimpinan Redaksi beritadelapan.com. 

Rate this article!
Jamaah Tanpa Nama,4.67 / 5 ( 3votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply